<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289</atom:id><lastBuildDate>Sun, 13 Sep 2009 01:52:32 +0000</lastBuildDate><title>GRANTING - the whistle from merapi valley</title><description></description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-417932748045693956</guid><pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-12T18:50:41.821-07:00</atom:updated><title>Bersama Bintang</title><description>Malam ini langit yang biasa mendung tampak cerah&lt;br /&gt;Awan putih berserah seperti taburan kapuk randu&lt;br /&gt;Di baliknya membayang kerlip bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan langit seakan menghiburku yang tengah gundah&lt;br /&gt;Sering kudongakkan kepala untuk melihat keindahan itu sambil menghela napas dalam&lt;br /&gt;Sepi dan perih terasa seiring tarikan napas&lt;br /&gt;Kulihat gugusan bintang membentuk sketsa kalajengking&lt;br /&gt;Ah, untuk kedua kalinya dalam hidupku kulihat sketsa bintang itu&lt;br /&gt;Dalam hati, kutanyakan padanya, ”hi bintang, apakah kamu punya kuasa untuk menyampaikan pesan?”&lt;br /&gt;Bintang berkelip, tak ada jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hatiku tambah gundah dan perih&lt;br /&gt;Hi bintang, aku sepi, aku rindu, aku ingin menikmati belaiannya&lt;br /&gt;Hi bintang, aku telah membuatnya terperangah tiba-tiba, sakit hati karena ucapanku&lt;br /&gt;Tapi bintang, aku tidak menyesal dengan apa yang telah kuucapkan padanya&lt;br /&gt;Aku merasa lega karena aku telah berkata jujur&lt;br /&gt;Aku merasa lega karena aku berani menyampaikan rasaku padanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, aku memang mencintainya tanpa alasan&lt;br /&gt;Aku ingin sering bersamanya walau perjalanan cinta ini tak akan pernah ada ujung&lt;br /&gt;Tapi bintang, aku bahagia kala bersamanya&lt;br /&gt;Aku merasa penuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, aku tak tahu apakah aku akan terus bersamanya&lt;br /&gt;Aku tak tahu apakah dia masih menginginkan bersamaku&lt;br /&gt;Akal sehat dan nuraniku mengatakan ’cukuplah sudah’&lt;br /&gt;Namun sisi jiwaku yang lain mengatakan ’ikutilah gerak rasa kemanusiaanmu’&lt;br /&gt;Rasa cinta ini menjadikan aku ’manusia yang penuh’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, aku sepi tanpa kehadirannya&lt;br /&gt;Aku kering tanpa energi yang saling bertaut merindukannya dari kejauhan&lt;br /&gt;Aku rindu suara beratnya&lt;br /&gt;Ah, dia begitu keras tapi sekaligus perasa&lt;br /&gt;Dia begitu tega tapi kadang tak sadar kalau dia tak mau orang lain melakukan itu padanya&lt;br /&gt;Sedangkan aku, aku kepala batu dan seringkali tak peduli&lt;br /&gt;Aku seringkali kehilangan kontrol diri dan mudah terpicu amarah dan emosi tanpa sebab&lt;br /&gt;Yang satu ini adalah sisi lain dariku yang baru dia ketahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, kini aku merasa sendiri&lt;br /&gt;Waktu demi waktu bahagia yang telah kulalui dengannya terasa begitu singkat&lt;br /&gt;Tapi bintang, aku juga harus menyadari kalau akupun harus merenda hariku sendiri&lt;br /&gt;Aku harus menyusun tapak langkahku menuju masa depan sebagai seorang yang mandiri&lt;br /&gt;Aku harus tetap menjadi tiang penyangga keluarga besarku yang saat ini rapuh&lt;br /&gt;Aku harus rapikan kisi-kisi hatiku sendirian karena dia tak mungkin memasuki ranah ini&lt;br /&gt;Aku tidak bisa berbagi dengannya karena hubungan ini tak biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, lihatlah, mataku basah&lt;br /&gt;Hi bintang, sampaikan rinduku padanya&lt;br /&gt;Sampaikan kalau aku mencintainya&lt;br /&gt;Sampaikan terima kasihku karena aku pernah merasakan bahagia bersamanya&lt;br /&gt;Pernah merasa dicintai sebagai perempuan&lt;br /&gt;Sampaikan pula maafku kalau aku pernah menyakitinya&lt;br /&gt;Apapun yang akan terjadi di antara aku dengannya, dia tetap seseorang yang spesial&lt;br /&gt;Dia telah mengisi relung hatiku dan membuatku lebih dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi bintang, aku ingin menari bersama angin dan bersamamu&lt;br /&gt;Tuk redakan gulana dan menyatu bersama GAIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otista, 27 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-417932748045693956?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/09/bersama-bintang.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-7927448531009928955</guid><pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-12T18:48:04.495-07:00</atom:updated><title>Kosong</title><description>Perjalanan ini semakin tak kumengerti&lt;br /&gt;Untuk ke sekian kalinya, aku melangkah tidak dengan keyakinan&lt;br /&gt;Aku terseret arus&lt;br /&gt;Aku bergerak tidak dengan rohku sepenuhnya&lt;br /&gt;Aku bergerak untuk menemukan jawaban yang tidak cukup penting untuk kucari&lt;br /&gt;Namun aku bangga dengan keputusanku&lt;br /&gt;Aku bangga dengan keberanianku tuk jalani ketidakpastian di depan mataku&lt;br /&gt;Aku bangga karena aku tidak terseret untuk hanya bergumam namun maju untuk berbuat&lt;br /&gt;Aku bangga telah menjadikan diriku bagian dari proses pendewasaan sebuah sistem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah sudah kuayun&lt;br /&gt;Aku tak tahu apakah aku telah meletakkan tangga yang salah tuk gapai mimpiku&lt;br /&gt;Atau ini adalah sebuah gerak dorongan sang Aku yang ingin menunjukkan jalan lain?&lt;br /&gt;Akankah jalan ini panjang?&lt;br /&gt;Keterjalan telah terpampang di depan mata&lt;br /&gt;Aku tidak boleh menyerah sampai waktuku tiba untuk berhenti dan berkata ’cukup’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bukan dengan kepenuhan hati, aku ingin menjadikan proses ini menjadi pembelajaran yang menyenangkan&lt;br /&gt;Kuingin buka diriku tuk kembali mencari signal-signal petunjuk jalan menuju mimpiku&lt;br /&gt;Akan kutembus semua kesempatan tuk kembali melihat kerlip lenteraku yang entah berada di mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otista, 11 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-7927448531009928955?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/09/kosong.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-1139589472426913110</guid><pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-12T18:47:35.159-07:00</atom:updated><title>Selamat Jalan Mas</title><description>Dia telah berpulang&lt;br /&gt;Aku tak begitu mengenalnya&lt;br /&gt;Sajaknyapun tak satupun yang ku hafal&lt;br /&gt;Kudengar kebesarannya dari pak Wanto, guru bahasa Indonesiaku ketika SMP&lt;br /&gt;Katanya dia salah seorang sastrawan ternama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika namanya disebut, tak sedikitpun hatiku bergetar&lt;br /&gt;Ah, dia biasa saja&lt;br /&gt;Bapakku jauh lebih luar biasa darinya, bisikku dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diduga, delapan belas tahun kemudian aku bertemu dengannya&lt;br /&gt;Bertatap muka, bercakap layaknya orang yang setara&lt;br /&gt;Auranya tak juga menyentuhku&lt;br /&gt;Terbersit dalam hatiku kala itu, kenapa aku ini, kok aku merasa biasa&lt;br /&gt;Aku ini benar-benar mati rasa&lt;br /&gt;Yang kuhadapi saat ini adalah si Burung Merak, yang sangat terkenal itu, yang sangat dikagumi guru bahasa Indonesiaku, yang selalu diperbicangkan ketika berbicara tentang puisi, yang selalu dihormati dan disegani&lt;br /&gt;Kucoba putar otak dan hatiku sembari berbicara dengannya&lt;br /&gt;Aku ingin merasakan merinding kala berbincang dengannya&lt;br /&gt;Aku anak kemarin sore yang bukan siapa-siapa, rasanya kok terlalu pongah di hadapannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kataku mengalir lancar, tanpa ragu&lt;br /&gt;Dia sambut dengan serius dan kadang bercanda&lt;br /&gt;Sesekali cerita-cerita berbau ’cabul’ tentang pengalamannya lugas meluncur dari bibirnya&lt;br /&gt;Kuminta dia untuk mengisi orasi budaya, September 2004&lt;br /&gt;Dan dia katakan ’ya, saya mau’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuasa aku memberi imbalan seperti orang lain&lt;br /&gt;Keberanianku memintanya pun mungkin sebuah kekurangajaran&lt;br /&gt;Dibentaknya seorang kawan karena aku dirasa tak menghargainya dengan uang sekecil itu untuk penampilan seorang Burung Merak&lt;br /&gt;Merinding bulu kudukku mendengar kata-katanya yang menggelegar tiba-tiba&lt;br /&gt;Pembelaannya terhadapku membuatku terhenyak&lt;br /&gt;Merinding sekujur tubuhku ketika kurasakan dia menghargaiku begitu rupa&lt;br /&gt;Tak dilihatnya aku seorang gadis ingusan yang bahkan tak mengerti apa itu seni&lt;br /&gt;Pembicaraanpun tiba-tiba beralih tentang Babad Tanah Jawi, tentang tidak adanya ratu adil, tentang hidup dan kemudaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, dia telah pulang&lt;br /&gt;Baru kurasakan kebesarannya&lt;br /&gt;Dia memang luar biasa&lt;br /&gt;Dia begitu rendah hati&lt;br /&gt;Aku malu pada diriku sendiri&lt;br /&gt;Aku yang bukan siapa-siapa seringkali tinggi hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Willy, energimu mempengaruhi banyak orang kala kau hidup&lt;br /&gt;Dan kini, setelah kau tiadapun, energimu menyadarkanku untuk menjadi jiwa yang lebih baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan mas Willy&lt;br /&gt;Doaku untukmu di surga&lt;br /&gt;Kau pernah mewarnai perjalanan hidupku &lt;br /&gt;Kau pernah membuatku merasa bangga akan diriku&lt;br /&gt;Kau pernah mengajarku tentang arti ’benar’&lt;br /&gt;Sesuatu yang singkat dan kecil, namun begitu bermakna untukku, aku yang bukan siapa-siapa namun merasa bahagia menikmati perjalanan merenda harapan-harapan baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram,&lt;br /&gt;8 Agustus 2009 &lt;br /&gt;01.44 am&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-1139589472426913110?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/09/selamat-jalan-mas.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-1595023443157795517</guid><pubDate>Thu, 26 Mar 2009 07:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-26T01:00:15.213-07:00</atom:updated><title>Sepi</title><description>Sepi menyelusup relung kalbu&lt;br /&gt;Sendiri di tengah keramaian&lt;br /&gt;Tak ada yang benar-benar singgah&lt;br /&gt;Kepenuhan diri terasa maya&lt;br /&gt;Aku sebenarnya pincang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengang lengang lengang&lt;br /&gt;Walau asa masih meletup-letup&lt;br /&gt;Kendali pun lepas&lt;br /&gt;Tuk gapai kepenuhan&lt;br /&gt;Namun semu yang kudapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi..........&lt;br /&gt;Hembusan angin coba sejukkan hati&lt;br /&gt;Menemaniku untuk tersenyum dan tak teriris&lt;br /&gt;Sendiri, menuju asa dan jalani ketidakpastian&lt;br /&gt;Untuk mengisi relung yang disediakan alam raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjerambab dalam angan, mimpi dan mengindera sinyal sinyal kehidupan&lt;br /&gt;Kosong&lt;br /&gt;Hanya sapuan angin yang terasa&lt;br /&gt;Ah....aku terbang&lt;br /&gt;Dalam kosong&lt;br /&gt;Ringan&lt;br /&gt;Tak ada ujung&lt;br /&gt;Melayang tak pasti&lt;br /&gt;Tersadar akan kehidupan&lt;br /&gt;Misteri terdalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedati, 26 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-1595023443157795517?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/03/sepi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-5502627270120533913</guid><pubDate>Sun, 08 Mar 2009 04:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-07T20:19:38.815-08:00</atom:updated><title>Cinta yang Tak Kumengerti</title><description>Kurasakan sebuah gerak&lt;br /&gt;Ia tidak terindra&lt;br /&gt;Ia hanya dapat dirasa&lt;br /&gt;Ia membawaku pada energi surgawi&lt;br /&gt;Hembusannya mampu melingkupi dalam getar&lt;br /&gt;Lembut dan nyaman&lt;br /&gt;Tak ada lagi kekosongan dalam jiwa&lt;br /&gt;Hati berkelana, menerawang tuk sampaikan rindu kala lama tak bersua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak itu kadang mewujud&lt;br /&gt;Tatapan, belaian, ciuman, pelukan&lt;br /&gt;Dan getar pun kian merapat, pancarkan pijar dari lubuk terdalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melayang&lt;br /&gt;Dihembus gerak, dibungkus getar dan pancarkan pijar&lt;br /&gt;Cinta, ya, itulah rasa yang merasukiku &lt;br /&gt;Rasa yang tak kumengerti namun kukenali dan telah membawaku pada pembebasan diri&lt;br /&gt;Rasa itu tumbuh seiring kehadirannya&lt;br /&gt;Seorang anak Adam yang tebarkan cinta&lt;br /&gt;Dan kusambut dia dengan suka cita yang entah sampai kapan akan bergelora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otista III, 7 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-5502627270120533913?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/03/cinta-yang-tak-kumengerti.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-7764386103962871927</guid><pubDate>Sun, 08 Mar 2009 04:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-08T20:12:44.130-07:00</atom:updated><title>Surat Sahabat</title><description>Surat dari sahabat nun jauh di sana membuat hatiku sejuk&lt;br /&gt;Ia menyentuhku dengan cinta dalam nyata&lt;br /&gt;Goresan tangannya membuat hatiku dekat dan sadar akan jauhnya jarak&lt;br /&gt;Kesadaran akan jarak membuatku tercerap dalam suasana yang ganjil namun menyenangkan&lt;br /&gt;Serasa ada energi yang menghubungkan kami setelah sekian lama kerontang karena dunia cyber yang tak berbatas&lt;br /&gt;Ungkapan rindu darinya membuatku merasa ada dan bermakna&lt;br /&gt;Lamunanku pun berkelana ke Cairns&lt;br /&gt;Kapan ya kami dapat bertemu di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidakara, 4 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-7764386103962871927?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/03/surat-sahabat.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-5125119716153578143</guid><pubDate>Sun, 08 Mar 2009 04:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-07T20:16:57.614-08:00</atom:updated><title>Dunia Laki-Laki di Hotel Hermes</title><description>Mobil-mobil halus berwarna hitam datang dan pergi di gerbang hotel Hermes&lt;br /&gt;Lelaki-lelaki yang kebanyakan berjas hitam susul-menyusul menuruni mobil&lt;br /&gt;Sepatu mengkilap dan telepon genggam besar seakan menjadi iconnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengamati dari dekat, berdiri di keteduhan pohon yang mulai meranggas bersama seorang teman berdarah Italia&lt;br /&gt;Kami tengah menunggu jemputan yang tak kunjung datang karena jalan umum dialihkan untuk memberi kelancaran mereka yang bermobil hitam&lt;br /&gt;Kudengar sayup-sayup percakapan dua lelaki di belakang sebuah mobil&lt;br /&gt;Katanya pak Presiden mengundang para petinggi untuk bersua di hotel Hermes pagi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil hitam kian hilir mudik datang dan pergi&lt;br /&gt;Lelaki-lelaki berbaju hitam kian cepat jalannya, terburu-buru tepatnya&lt;br /&gt;Namun ada yang ganjil, tak satupun tampak perempuan&lt;br /&gt;Suasana sangat laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa di dunia antah berantah&lt;br /&gt;Negeri Samudra Pasai yang lekat dengan Cut Nya’ Dien dan para perempuan pemberani, inong bale, terasa lain wajahnya&lt;br /&gt;Jejak para perempuan itu seperti hilang ditelan bumi&lt;br /&gt;Tertutup oleh mereka para pemimpin laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel Hermes, 24 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-5125119716153578143?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/03/dunia-laki-laki-di-hotel-hermes.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-8975250264887658296</guid><pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-05T19:36:56.605-08:00</atom:updated><title>Kabut Pagi</title><description>Desa Granting begitu dingin&lt;br /&gt;Kabut pagi menutupi hamparan sawah terasering yang menghijau&lt;br /&gt;Kurapatkan jaket hingga menutupi leherku&lt;br /&gt;Titik titik air kabut menyapu wajahku&lt;br /&gt;Kicau burung yang biasanya ramai bersahutan menyambut pagi, kini tak terdengar&lt;br /&gt;Mereka mungkin masih meringkuk menghangatkan tubuh di sarang masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunikmati ketenangan dan hawa dingin ini sepenuh jiwa&lt;br /&gt;Telah lama kutak lagi saksikan kabut di desa ini&lt;br /&gt;Seakan Tuham menjawab kerinduanku akan suasana masa kecil di musim hujan&lt;br /&gt;Ya.....kabut&lt;br /&gt;Kuingat masa kecil dulu, aku selalu duduk di pinggir jembatan kayu untuk menikmati kabut sambil melamum&lt;br /&gt;Merasakan dinginnya pagi dan maha karya alam yang begitu luar biasa&lt;br /&gt;Hanya diam dan mengaktifkan semua indera dan juga hati&lt;br /&gt;Yang ada hanya perasaan indah dan nyaman&lt;br /&gt;Sebuah rasa menyatu dengan alam&lt;br /&gt;Sebuah rasa menjadi bagian dari alam&lt;br /&gt;Sebuah rasa terlimpahi karunia&lt;br /&gt;Dan pagi ini rasa itu kembali hadir&lt;br /&gt;Seakan ujung-ujung saraf ini kembali terbuka dan sensitif untuk merasakan GAIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granting, 2 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-8975250264887658296?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/01/kabut-pagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-963672565296409411</guid><pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-05T19:36:17.421-08:00</atom:updated><title>Tercerap Bayangan Romantisme Ambon</title><description>Tak pernah terlintas di benakku menginjakkan kaki di Ambon&lt;br /&gt;Sebuah pulau kecil bagian dari kepulauan Maluku yang sejak dulu telah dikenal dunia karena rempahnya&lt;br /&gt;Pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya&lt;br /&gt;Pulau yang terkenal dengan penyanyi-penyanyi bersuara merdu&lt;br /&gt;Namun juga pulau yang pernah bersimbah darah karena perang saudara karena perbedaan agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda pesawat Wings Air yang kutumpangi mulai menyentuh tanah beraspal bandara Pattimura &lt;br /&gt;Segera terlintas di benakku pemandangan masa silam, lalu lalang kapal-kapal berbendera Portugis berseliweran di pelabuhan&lt;br /&gt;Sepertinya romantis, pikirku&lt;br /&gt;Ditambah lagi orang-orang berkulit putih, berjas putih dan bertopi putih berkeliling pulau naik kuda, wah waktu itu pakai kuda atau bendi ya?&lt;br /&gt;Para pekerja perempuan memetik buah pala, merica dan cengkeh&lt;br /&gt;Mereka pasti berwajah hitam manis rupawan, khas perempuan Maluku&lt;br /&gt;Ah.....kenapa tak terlintas bayangan kelam konflik berdarah satu dekade lalu dan masih bersisa sampai sekarang ya?&lt;br /&gt;Aneh, mungkin aku pecinta romantisme masa lalu&lt;br /&gt;Hingga sejarah romantis saja yang ingin kucari dan cerap di setiap sudut tanah yang kuinjak di kepulauan nusa antara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kakiku menapak di tanah bandara Pattimura&lt;br /&gt;Aku disambut pemandangan pegunungan dan kabut tipis&lt;br /&gt;Begitu bersih dan sangat berbeda dengan udara Jakarta yang pengap dan kotor&lt;br /&gt;Segera terlihat wajah-wajah khas Maluku&lt;br /&gt;Ada perasaan berbeda ketika kusapu orang-orang yang menunggu penumpang di balik kaca pengambilan bagasi pesawat&lt;br /&gt;Ah, aku tengah berada di sebuah masyarakat yang lain&lt;br /&gt;Sesuatu yang sering kurindukan, berada di sebuah komunitas yang berbeda dan dengan budaya yang berbeda&lt;br /&gt;Sesuatu yang membuatku selalu ingin tahu kebiasaan mereka, cara berpikir mereka, kearifan budaya mereka dan tentu saja eksotisme alam dan wajah-wajah khasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman datang menjemput&lt;br /&gt;Sebuah mobil Avansa mengantarkan kami menuju kota tempat aku menginap&lt;br /&gt;Mobil bergerak dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan mulus memutari teluk Ambon yang berkelok – kelok&lt;br /&gt;Di sepanjang kiri jalan, masih banyak bekas-bekas rumah terbakar yang mulai ditumbuhi semak belukar&lt;br /&gt;Tak berani kubayangkan kekerasan masa silam&lt;br /&gt;Kutepis jauh-jauh bayangan itu&lt;br /&gt;Secepat kilat, kutata hati dan pikiranku untuk tidak mengarah kepada bayangan mengerikan konflik berdarah itu&lt;br /&gt;Kutata diriku untuk memasuki eksotisme Ambon di antara kesibukan kerja yang akan kulakukan&lt;br /&gt;Dan benar, aku berhasil mengendalikan diriku&lt;br /&gt;Kunikmati kembali keindahan alam teluk dan daratan pegunungan memanjang di seberang sana&lt;br /&gt;Hmmmm.........indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambon, 9 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-963672565296409411?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/01/tercerap-bayangan-romantisme-ambon.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-818410841282588471</guid><pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-05T19:35:10.570-08:00</atom:updated><title>Kenangan di Ambon</title><description>Hampir dua minggu kuhirup udara Ambon&lt;br /&gt;Kutelah telusuri pasar kumuh, gang-gang senggol, aroma merica tumbuk, perbukitan nan menawam, geraja tua buatan Portugis dengan jendela gaya aldeko di pucuk bukit desa Soya, wine pala yang menghangatkan badan di cafe Sibu-Sibu, ikan dan cumi bakar lezat di warung Sari Rasa samping cafe Tasdouv, ikan cakalang asap di sepanjang jalan Galala depan makam Victoria –makam prajurit perang Dunia II yang sangat terawat karena didanai langsung oleh Australia-, pantai pasir putih nan jernih di Natsepa, melintasi teluk Ambon dengan perahu dayung, sungai air panas tanpa bau belerang di tengah pepohonan sagu yang begitu nikmat di Tulehu dan terakhir hamparan pemandangan menawan pulau dan teluk Ambon dari ketinggian bukit depan patung Pahlawan perempuan Maluku Martha Christina Tiahahu.&lt;br /&gt;Semua tempat itu kulalui dan nikmati di sela-sela kesibukan kerja yang mengharuskanku menelusuri Ambon&lt;br /&gt;Beban kerja yang berat dengan jadwal yang begitu padat tak menyurutkan semangatku&lt;br /&gt;Hujan pun kuterjang demi menemui beberapa orang&lt;br /&gt;Aku puas, atas hasil kerjaku maupun kelana menyusuri kota Ambon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambon, aku ingin kembali lagi&lt;br /&gt;Aku masih ingin menikmati pulau Pombo dan menyeberang ke Banda Neira&lt;br /&gt;Aku ingin berendam di sungai air panas di Tulehu lebih lama sambil menyeruput kopi pahit yang begitu nikmat&lt;br /&gt;Aku ingin melihat perkebunan rempah yang terkenal itu&lt;br /&gt;Aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan-perempuan hitam manis berwajah khas Ambon yang begitu menawan, mereka sangat eksotis dan alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pengalaman kerja berat itu begitu menyenangkan&lt;br /&gt;Hatiku yang kerontang pun kembali sejuk dan menggerakkan jemariku untuk kembali menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambon, 19 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-818410841282588471?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2009/01/kenangan-di-ambon.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-4889401952828760170</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:44:44.055-08:00</atom:updated><title>Mengingatmu</title><description>Terpana kupandang tubuh pucat yang tinggal tulang berbalut kulit. Matanya terkatup rapat. Muka itu nampak begitu tenang dan bersih. Kucium dan kupeluk tubuh yang telah dingin itu. Berjuta rasa berkecamuk menjadi satu. Aku merasa begitu sakit dan kehilangan. Kutahan air mataku untuk tidak tumpah di atas tubuh yang telah suci itu. Sesuatu terasa lepas dari nuraniku. Ada sebagian dari cintaku serasa dirampas paksa untuk pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari kutatap tubuh itu terus-menerus untuk terakhir kalinya. Kembali terawang di benakku akan sekian lama penderitaan yang disandangnya. Terawang dengan jelas di mataku saat cintaku itu mengerang dan menangis kesakitan. Pernah ku bertanya pada Tuhan, mengapa perempuan suci dan tulus itu harus mengalami kesakitan begitu rupa di akhir hidupnya. Aku tak mengerti hingga kini, maksud apa di balik ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya aku pasrah. Hidup ini begitu banyak rahasia. Hari ini adalah sebuah kenyataan, namun esok hari adalah sebuah misteri. Kelemahan akalku tak mampu menjangkau dan mengerti semuanya. Kini kuberjalan dengan kaki yang masih sedikit pincang. Namun aku yakin, aku tetap mampu berdiri tegak. Ketulusan dan semangat pelayanan perempuan yang telah mencurahkan cintanya untukku, akan selalu menemani dan mewarnai perjalananku hingga kubertemu dengannya kembali suatu saat nanti. Entah kapan.....Seperti halnya pesan seorang pater, cinta itu ada untuk melayani yang lain.Cinta tidak akan pernah habis ketika terus-menerus ditebarkan. Dan aku percaya, cinta adalah sebuah rahasia yang fitrah ada untuk mewujudkan kemanusiaan manusia. Dan cinta perempuan itu telah mengingatkanku untuk tidak terjerumus menjadi bangsat, sebuah icon rusak yang kusadari ada kecenderunagn di dalam diriku.&lt;br /&gt;Terima kasih ibu. Percayalah, karyamu dan cintamu yang telah tercurah untukku tidak akan pernah sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari putrimu yang selalu mengingatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Juni 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-4889401952828760170?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/mengingatmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-3636778696589194184</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:40:44.880-08:00</atom:updated><title>Episode Valentine 4</title><description>Pertama mengenalmu, ku terhenyak sesaat&lt;br /&gt;Ah, ini pemuda Forkot, pikirku&lt;br /&gt;Namun semakin lama mengenalmu aku kagum&lt;br /&gt;Kau pemuda yang tengah tumbuh&lt;br /&gt;Dan kulihat pertumbuhan itu nyata dari ekspresi dan ungkapan-ungkapanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama, kunikmati hidupku dengan melihat pertumbuhan orang lain&lt;br /&gt;Kubelajar dari geraknya, ya..... tumbuh&lt;br /&gt;Keunikan individu-individu yang tumbuh slalu membuatku bersemangat&lt;br /&gt;Dan dalam hati aku berkata, ”Yak, ini dia, aku bisa bersentuhan dengannya, dan aku warnai pertumbuhan itu, aku yang hanya setitik debu akan meniupkan angin sepoi memutar dan meliukkan banyak permata untuk bergerak, berkarya, dan membangun harapan akan sebuah dunia yang lebih baik.”&lt;br /&gt;Ah......sebuah utopia&lt;br /&gt;Namun kehidupan ini selalu menjadi utopia&lt;br /&gt;Tak apa, karena aku yakin dengan harapan yang utopis itu membuatku merasakan menjadi manusia yang disokong oleh energi alam raya, GAIA&lt;br /&gt;Ya.....GAIA itu menyentuhku melalui permata-permata yang selalu tumbuh, bahkan kala mereka tiada&lt;br /&gt;Karena karya dan pemikiran itu adalah warisan yang selalu memunculkan penerus yang membuatnya tetap hidup dan tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pertemuan, perjumpaan dan kebersamaan kita dan insan lain di Pedati 20 ini mewarnai perjalanan hidupmu untuk menuju kemanusiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-3636778696589194184?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/episode-valentine-4.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-2103355803237281502</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:40:01.557-08:00</atom:updated><title>Episode Valentine 3</title><description>Sejak aku mengenalmu, kau selalu bersemangat&lt;br /&gt;Binar itu terpancar kuat dari mata dan gerak tubuhmu&lt;br /&gt;Kekerasan hatimu adalah benteng ketegaranmu&lt;br /&gt;Kemanjaanmu adalah ekspresi kasih yang ingin kau tebarkan dan upayamu untuk merengkuh lebih banyak sahabat untuk mendekat&lt;br /&gt;Kepedulianmu akan gerak kemanusiaan terus berjalan utuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku merasa menjadi kakak untukmu&lt;br /&gt;Aku menikmatinya&lt;br /&gt;Diskusi-diskusi ringan kita terkadang mengusikku untuk kemabli membuka lembaran-lembaran memori di dalam kisi-kisi benakku&lt;br /&gt;Ekstasi kurasakan ketika ku dapat berbagi&lt;br /&gt;Dalam imagi, dalam karya dan dalam liukan roh kemanusiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smoga nilai-nilai kemanusiaan yang bersentuhan selama kebersamaan kita dan insan lain di lembaga ini mewarnai perjalanan hidupmu, untuk berkarya bagi diri, keluarga dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-2103355803237281502?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/episode-valentine-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-2878007040317762656</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:39:22.642-08:00</atom:updated><title>Episode Valentine 2</title><description>Pagi ini, kuteringat pertemuan dan kebersamaan kita tahun 2003 dan 2004&lt;br /&gt;Kala itu, kau begitu bersemangat menggoreskan karyamu di atas papan triplek&lt;br /&gt;Satu kata yang kuingat dan kurasakan, Indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujuga teringat perbincangan kita pada suatu malam yang mulai beranjak larut&lt;br /&gt;Pukul sebelas malam, kau kunjungi rumah di jalan Pedati 20 bersama 2 orang sahabat&lt;br /&gt;Kita berbicara di teras rumah&lt;br /&gt;Kau ungkapkan kegelisahanmu tentang makna hidup, gerakan dan pluarlisme&lt;br /&gt;Murni, kata-kata meluncur dari mulutmu&lt;br /&gt;Kusambut kegelisahan itu dengan berbagi jawaban yang berasal dari kegelisahanku juga di masa lalu&lt;br /&gt;Ah.....kurasakan bahagia dan lega kala itu&lt;br /&gt;Ketika kita bisa berbagi dalam alam imagi yang senantiasa bergejolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, kunikmati kebersamaan, ketulusan dan karyamu&lt;br /&gt;Bukan hanya untuk lembaga ini, kita, kawan-kawan, dan masyarakat yang melihat makna di balik goresan tanganmu, namun untuk sesuatu yang lebih besar lagi, yang tak kasat mata namun ada melingkupi kita, menunggu kita untuk mengumpulkan kekuatan itu&lt;br /&gt;Hingga perubahan mulia akan terjadi&lt;br /&gt;Suatu saat nanti, saat ini, atau entah kapan&lt;br /&gt;Kita semua tak tahu&lt;br /&gt;Hanya sang waktu yang akan berbicara&lt;br /&gt;Dan yang terpenting dari itu adalah bahwa sesuatu telah kau lakukan untuk mengikuti gejolak nuranimu yang meneriakkan perdamaian dan kesetaraan dalam kehidupan ini&lt;br /&gt;Semoga hal itu menjadi pengalaman indah yang nilai-nilainya akan mewarnai perjalananmu di masa datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, dimanapun kau berada, nilai-nilai itu senantiasa bersemayam dalam hati dan ekspresi jiwamu&lt;br /&gt;Dan kau akan jadikan dirimu sebagai penggerak perubahan, sebuah cita-cita mulia kemanusiaan, untukmu, keluargamu, temanmu dan sistem besar dunia ini&lt;br /&gt;Karena kekuatan itu ada dalam dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Feburari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-2878007040317762656?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/episode-valentine-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-2324320755637934247</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:38:39.591-08:00</atom:updated><title>Episode Valentine 1</title><description>Pagi ini cukup cerah setelah sekian lama diliputi mendung dan hujan&lt;br /&gt;Namun tentu saja udara tak sesegar hawa pegunungan&lt;br /&gt;Kuterbangun dan teringat, hari ini adalah valentine day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat akan mata-mata bening yang telah sekian lama bersentuhan denganku&lt;br /&gt;Dalam suka dan duka untuk sebuah cita-cita mulia&lt;br /&gt;Layaknya pengembara, kuajak kalian berjalan menembus kabut, lebatnya hutan yang penuh onak, dan belantara maya alam pikiran untuk menyatukannya dengan hati&lt;br /&gt;Kuajak kalian untuk berbicara dengan mata batin&lt;br /&gt;Menyibak belantara imagi-imagi dan juga praksis sosial yang berserakan di sekeliling kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kamu, adalah salah satu dari mereka yang berjalan bersamaku&lt;br /&gt;Kegelisahan dan ketidakpastian akan hidup mungkin pernah menghinggapimu&lt;br /&gt;Dan aku bahagia karena aku pernah mewarnai sepenggal sisi dalam kehidupanmu&lt;br /&gt;Semoga perjumpaan dan pertemuan kita dalam sepenggal waktu ini, bermakna&lt;br /&gt;Untuk menyentuh hati kita dengan nilai-nilai luhur kehidupan&lt;br /&gt;Sebuah cita-cita untuk membuat kehidupan lebih baik&lt;br /&gt;Sebuah pergulatan dimana ksatria pun mungkin takut untuk mengarunginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-2324320755637934247?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/episode-valentine-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-1461956598738974614</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:34:44.121-08:00</atom:updated><title>Sebuah Makna</title><description>Satu per satu, Tuhan menjemput orang-orang yang begitu menyayangi dan berjasa dalam hidupku&lt;br /&gt;Kepergian dan kenangan yang mereka tinggalkan membuatku perih&lt;br /&gt;Harum karya mereka baru tercium ketika mereka telah tiada&lt;br /&gt;Aku terlambat untuk membalas dan memahami pengorbanan yang telah mereka berikan untukku&lt;br /&gt;Kepergian mereka membangunkanku dari kedirian dan ketidakpedulianku di luar diriku&lt;br /&gt;Kini kunikmati kebersamaan bersama keluarga, kasih dan saling melayani&lt;br /&gt;Ya…..aku belajar tentang arti sebuah pelayanan sebagai salah satu pilihan hidup&lt;br /&gt;Pelayanan sebagai salah satu jalan kebahagiaan dan membawa kita pada sebuah ikatan&lt;br /&gt;Menyadarkan kita bahwa di antara kesendirian dalam kelana perjalanan hidup, kita ada bersama yang lain, kita tidak sendirian di dunia sebelum menjalani kesunyian di alam kubur.&lt;br /&gt;Jadi….kenapa tidak dinikmati tali persaudaran dan persahabatan untuk membawa hidup terasa penuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granting, 01 November 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-1461956598738974614?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/sebuah-makna.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-6539123090104977243</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:27:15.721-08:00</atom:updated><title>Krakatau</title><description>Alunan keyboard, bonang, kendang, suling dan drum, rancak berpadu membelah atmosfer Jakarta&lt;br /&gt;Hening dalam takjub tergambar dari mata-mata penuh kekaguman&lt;br /&gt;Hanyut kuterbawa dalam irama ethnic penuh energi&lt;br /&gt;Penat yang memenuhi kepala dan tubuh seakan terurai satu persatu&lt;br /&gt;Lebur dalam ria bersama karya putra-putra alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepukan membahana menyambut tiap akhir kolaborasi&lt;br /&gt;Gemuruhnya membangkitkan energi dalam satu&lt;br /&gt;Ekstasi jiwa memecah gumpalan hitam yang memenuhi tubuh&lt;br /&gt;Ya....aku bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau...........&lt;br /&gt;Karya besarmu malam ini membantuku tuk kembali bangun&lt;br /&gt;Tuk menyambut hariku dengan penuh gairah&lt;br /&gt;Semangat yang terpancar darimu membawaku tuk belajar tentang kerja keras, tak kenal lelah dan kasih.......... &lt;br /&gt;Untuk satu tujuan ‘sebuah kepuasan jiwa yang membuatku ada’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 September 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-6539123090104977243?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-910692837263128825</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:24:39.874-08:00</atom:updated><title>Lolos dari Maut</title><description>Lemas kuterduduk di atas sajadah&lt;br /&gt;Kuucap beribu syukur pada Tuhan &lt;br /&gt;Sahabat indahku masih dalam rengkuhan kasihnya, untuk dapat hidup dan berkarya lebih besar lagi bagi saudara-saudaraku yang tertindas &lt;br /&gt;Namun pelor itu tetap mengancamnya setiap saat &lt;br /&gt;Entah sudah berapa hari dia selalu terjaga &lt;br /&gt;Cintanya pada yang tertindas, &lt;br /&gt;idealismenya untuk memenuhi panggilan nurani begitu kuat &lt;br /&gt;Dia memilih bersama rakyat yang malang dan mencekam di bawah ancaman bedhil sang penguasa &lt;br /&gt;Sebuah praksis tanpa banyak kata &lt;br /&gt;Mungkin dia, kawan-kawan seperjuangannya dan para petani tertindas itulah yang akan mendidik para penguasa dan intelektual bangsa ini, Yang sering lupa untuk menjalankan mandat rakyat dan kewajiban moralnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Juli 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-910692837263128825?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/lolos-dari-maut.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-8008133150129736583</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:21:39.519-08:00</atom:updated><title>Pulau Sarok dan Savana</title><description>Kutatap hempasan ombak nan lembut di sepanjang pantai&lt;br /&gt;berkelok pulau Sarok. Pasir putih terhampar indah di&lt;br /&gt;tepian pantai yang kembali perawan. Sepi, sunyi, namun&lt;br /&gt;menyiratkan kedamaian abadi. Mentari berwarna jingga&lt;br /&gt;dan kemerahan beranjak tenggelam di ufuk barat.&lt;br /&gt;Tuhan.....betapa indah alam yang kau cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kududuk di dermaga tua bersama seorang sahabat. Kami&lt;br /&gt;diam menyaksikan keajaiban alam. Ruh ini bagai meronta&lt;br /&gt;tuk terbang bebas, tuk turut menikmati rahmad ilahi.&lt;br /&gt;Jiwa ini bagai menyatu dengan alam. Sebuah ekstasi&lt;br /&gt;jiwa tak terkatakan. Lepas......pasrah dalam buaian&lt;br /&gt;nikmat kasih alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku meninggalkan dermaga tua penuh&lt;br /&gt;kenangan surgawi. Maghrib telah tiba. Suara adzan&lt;br /&gt;sayup-sayup terdengar dari kejauhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba rasa perih menyeruak. Sepanjang perjalanan&lt;br /&gt;pulang, di kanan-kiriku terasa senyap. Hutan tropis&lt;br /&gt;yang dulu sangat lebat telah berubah menjadi savana.&lt;br /&gt;Tanaman alang-alang dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Callotropis gigantea&lt;/span&gt; telah&lt;br /&gt;merampas tumbuhan lokal yang begitu berharga. Ulah&lt;br /&gt;para penguasa dan baju loreng bersenjata AK telah&lt;br /&gt;membabat hutan dan merusak harmoni alam dengan pantai&lt;br /&gt;yang begitu indah. Wajah sendu rumah-rumah panggung&lt;br /&gt;khas Serambi Mekah nampak dari kelamnya warna papan&lt;br /&gt;kayu rumah mereka. Seakan menyiratkan kesedihan dan&lt;br /&gt;kegelisahan. Apalagi yang akan terjadi pada mereka?&lt;br /&gt;Aku tak tahu. Jangkauan otakku terlalu kecil untuk&lt;br /&gt;dapat menjawab semua pertanyan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju mobil begitu kencang. Kini kuditemani bulan dan&lt;br /&gt;bintang. Indah terasa di antara savana, namun aku tahu&lt;br /&gt;ada sejuta derita di sana. Tiba-tiba mobil berjalan&lt;br /&gt;pelan. Kubuka kaca jendela dan kulongokkan kepalaku ke&lt;br /&gt;luar. Oh.....kini kami melewati pos tentara. Kami&lt;br /&gt;harus berjalan pelan, berhenti untuk melapor. Hatiku&lt;br /&gt;sempat berdetak kencang. Belum pernah aku rasakan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sweeping&lt;/span&gt; oleh laki-laki berambut cepak dan suara&lt;br /&gt;berat. Ah....sang sopir begitu lihai bermain kata.&lt;br /&gt;Kami pun lolos tanpa ada yang turun satupun. Wajahku&lt;br /&gt;yang memerah diterpa matahari dan jilbab Acehku&lt;br /&gt;berhasil menyembunyikan identitasku sebagai orang&lt;br /&gt;asing di bumi Serambi Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil kembali melaju kencang. Kami sendirian, jarang&lt;br /&gt;sekali berpapasan dengan pengendara lainnya. Mungkin&lt;br /&gt;karena hari telah mulai malam. Seerrrtttt......darahku&lt;br /&gt;kembali mengalir ke ubun-ubun kepalaku. Di depan sana&lt;br /&gt;kusaksikan beberapa orang berbaju loreng dengan&lt;br /&gt;senjata AK terselempang di pundak dan digenggam erat&lt;br /&gt;di tangan. Serasa siap tembak.............Tapi kata&lt;br /&gt;sahabat baruku, pemandangan itu telah terjadi setiap&lt;br /&gt;hari. Tidak apa-apa, aman.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm......Aceh.......sejuta kenangan darimu telah&lt;br /&gt;mengisi kisi-kisi kalbuku yang takkan terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Sarok, Singkil 26 Februari 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-8008133150129736583?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/pulau-sarok-dan-savana.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-6325320412486784123</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:16:25.520-08:00</atom:updated><title>Sahabatku dan Hujan Peluru</title><description>Tubuhku bergetar menerima beruntun SMS dari sahabat indahku&lt;br /&gt;Ku tak sanggup berkata-kata mendengar permata yang penuh semangat tertembak peluru penguasa&lt;br /&gt;Kubayangkan orang-orang berbaju coklat dan loreng itu memblokade desa yang begitu tenang namun menyimpan semangat perjuangan&lt;br /&gt;Kubayangkan tubuh-tubuh tua, kecil, rapuh dan sahabat indahku berlari di antara hujan peluru dan intaian mata-mata bengis haus darah&lt;br /&gt;Kutahu kepedihan dan kesakitannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terngiang di telingaku perkataan perpisahan kami dulu,"Tuti, aku telah memilih jalan hidupku untuk gerakan rakyat."&lt;br /&gt;Menetes air mataku mengingatnya &lt;br /&gt;Namun kumasih gembira ketika nyawanya tidak diambil oleh kekasih abadinya&lt;br /&gt;Dia selamat...alhammdulillah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 23 Juli 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-6325320412486784123?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/sahabatku-dan-hujan-peluru.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-4498128411295409879</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:15:09.589-08:00</atom:updated><title>Aku Asyik dengan Duniaku</title><description>Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Kerja demi kerja kulakukan dengan semangat&lt;br /&gt;Pergulatan mencari  makna hidup terus bergelora&lt;br /&gt;Tiada hari tanpa pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku&lt;br /&gt;Untuk apa aku hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Kunikmati indahnya mentari pagi&lt;br /&gt;Kunikmati sunyi malam dan gairah subuh&lt;br /&gt;Kusambut tiap hariku dengan kata ‘ya…aku hidup’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Setiap saat aku berkhayal&lt;br /&gt;Di lain waktu aku mengekspresikan khayalanku&lt;br /&gt;Kusibak dedaunan berserak&lt;br /&gt;Kucari permata, intan, emas, berlian di antara belukar dunia&lt;br /&gt;Kubercengkerama dengan imagi-imagi dan pergolakan dunia yang tak pernah henti&lt;br /&gt;Kadang aku tertawa, kecewa, sedih, bahagia&lt;br /&gt;Dan tak jarang kumelesat bagai anak panah tuk penuhi gelora asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Berlembar-lembar buku, dialog nurani, nafsu jiwa dan renda kata dari yang lain mewarnai laju langkahku&lt;br /&gt;Semuanya membangun nilai yang menjadi lentera yang menemani perjalananku&lt;br /&gt;Tiap saat kubuka mata, dunia selalu berubah&lt;br /&gt;Indah, penuh kejutan sekaligus membuatku kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Dunia Ornop telah menyita sebagian besar waktuku&lt;br /&gt;Dunia imagi yang masih miskin praksis&lt;br /&gt;Dunia imagi penuh manusia yang kadangkala tidak menapak bumi&lt;br /&gt;Dunia imagi yang dibungkus kain putih yang kadangkala terkesan suci&lt;br /&gt;Namun kuyakin ada permata walau setitik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Kadangkala kubenturkan khayalku dengan fakta kehidupan&lt;br /&gt;Petani miskin, manula, tukang bajaj, kelahiran, kekerasan, penindasan, kedengkian, mayat-mayat hidup tanpa nurani, gempita sorak anak-anak metropolitan, kematian, tatapan kasih ibuku, kesederhanaan desa……………&lt;br /&gt;Warna-warninya membuatku tercenung&lt;br /&gt;Dan aku tetaplah setitik debu yang haus akan jawaban-jawaban&lt;br /&gt;Setitik debu yang merindukan kasih kehidupan yang illahiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku asyik dengan duniaku&lt;br /&gt;Dunia yang membawa hidupku penuh warna dan tak takut untuk bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granting, 12 Juli 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-4498128411295409879?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/aku-asyik-dengan-duniaku.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-5059729391382815672</guid><pubDate>Tue, 25 Nov 2008 12:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:12:00.764-08:00</atom:updated><title>Evolusi</title><description>&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CWINDOWS%5CTEMP%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hamparan sawah hijau membentang di depan mata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semilir angin menghembuskan udara desa yang segar&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sesekali terdengar suara burung di pucuk pohon kepundung di samping rumah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Begitu lengang, damai dan sederhana&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Lima belas tahun sudah kutinggalkan desa ini&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semua sudut hampir tak berubah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seluruh warga desa telah bangkit&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kemiskinan tak lagi melilit seperti masa lalu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus menanam tebu tanpa imbalan layak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus menjadi buruh di lahan sendiri&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus mengais hasil bumi dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebun untuk sekedar bisa makan 3 kali sehari&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus menjemur gaplek untuk persiapan paceklik&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus berlomba dengan hujan untuk menjemur sampah daun bahan bakar membuat gula merah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika Bapak harus memanjat 13 pohon kelapa tiap subuh dan maghrib untuk memperoleh air nira&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika ibu dan bibiku harus menjadi buruh penumbuk padi untuk 3 cangkir beras tumbuk&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika aku, kakak dan bapakku harus memancing ikan di sawah di bawah terik matahari dan nyuluh ikan di sepanjang parit sawah ketika malam tiba, untuk memperoleh cukup lauk yang bergizi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika kami harus berjalan tanpa alas kaki ke pasar Ngagrong, melintasi lautan pasir muntahan Merapi, membawa tikar hasil anyaman ibu, dan pulang membawa sekantong kerupuk dan cethithet&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika aku selalu berjalan di belakang ibu, tanpa alas kaki, baju sederhana yang sedikit lusuh, memegangi kain ibuku yang berparas jelita dan penuh perjuangan hidup&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika aku begitu bahagia menikmati alam, bermain layangan di jalan berumput tebal, naik kerbau di senja hari, mengais ikan di sungai kering kala kemarau tiba, menembus kabut tebal di pagi hari dalam perjalanan ke sekolah, menunggu lebaran dengan baju baru hasil jahitan ibuku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ah……..semuanya begitu sederhana, bergulir setapak demi setapak, melintasi waktu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Evolusi kehidupan pun berjalan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan kini kuhidup di sebuah dunia maya bagi banyak orang, namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nyata bagi sebuah sistem besar yang menindas&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebuah dunia ide, filsafati dan mimpi, yang kucoba terjemahkan untuk membuatnya terjamah dan menyentuh kehidupan duniawi untuk alasan surgawi dalam keduniaan dan setelah kematian menjemput&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Granting, 1 November 2005&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-5059729391382815672?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/11/evolusi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-6025396959700773935</guid><pubDate>Thu, 25 Sep 2008 06:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T04:03:31.603-08:00</atom:updated><title>HARU</title><description>Bergantian wajah-wajahmu menghiasi lamunanku&lt;br /&gt;Ungkapan rindu nan ceria mengalir melalui teleponku&lt;br /&gt;Lelah raga dan jiwa ini terobati sudah   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak kaki dan gelisahku kau sambut penuh arti&lt;br /&gt;Senyumanku kau balas dengan madu&lt;br /&gt;Betapa bahagia diriku menerima semua ini  Puji syukur terucap dari bibirku yang gemetar&lt;br /&gt;Kutersenyum dalam haru   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah…..ternyata masih  banyak permata-permata yang dengan tulus menebarkan kasih&lt;br /&gt;Sebuah kasih yang melintas batas identitas, namun justru dengan kasih ini identitas-identitas muncul begitu anggun, tanpa harus dikumandangkan kepada khalayak&lt;br /&gt;Sebuah kasih yang meluluhkan ke-aku-an&lt;br /&gt;Sebuah bukti, bahwa apa yang diperbuat bukan untuk dilihat oleh dunia, namun untuk mempengaruhi dunia, walaupun dunia itu sebatas keluarga sekalipun   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangga, dalam rentang hidupku, aku sempat mengenal permata-permata langka di tengah kepongahan dunia&lt;br /&gt;Aku bangga pernah berdialog dengan mereka dalam kasih&lt;br /&gt;Tak ragu aku  berkata, sebuah kekuatan putih yang dahsyat dapat lahir dari gerakan permata-permata di jalan Pedati, yang energinya akan merembes tuk menebarkan hawa kemanusiaan, semangat hidup, kerja keras dan kasih putih   &lt;br /&gt;Terima kasih teman&lt;br /&gt;Telah kau torehkan mosaik indah dalam perjalanan hidupku yang singkat ini&lt;br /&gt;Semoga apa yang kita lakukan, bermakna   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Februari 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-6025396959700773935?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/09/haru.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-2565288833551068291</guid><pubDate>Thu, 25 Sep 2008 06:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-24T23:05:34.845-07:00</atom:updated><title>MENUJU ASA</title><description>Dunia seakan memancarkan energinya tuk mendukungku&lt;br /&gt;Rintangan seakan sebuah kesempatanku untuk menjadi lebih dan lebih lagi&lt;br /&gt;Semakin ringan langkahku menuju asa&lt;br /&gt;Semakin terbuka pintu-pintu pilihan setelah sekian lama kubersimbah air mata tuk mencari diri&lt;br /&gt;Ekspresi demi ekspresi identitas kemanusiaanku melalui kerja, karya, kasih alam, mengalir bagai cucuran air terjun Cigundul yang penuh kekuatan&lt;br /&gt;Kekuatan dalam kepasrahan dan gairah hidup yang menyala indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kuteringat sahabat indahku di Bulukumba&lt;br /&gt;"Rasakan energi itu memenuhi tubuh kita, jagalah dia karena seringkali pikiran itu pergi tak terjaga"&lt;br /&gt;Teringat pula sahabat indahku di bumi Buitenzorg&lt;br /&gt;"Bila kau kehilangan matahari, ada bintang kecil yang selalu menunggumu"&lt;br /&gt;Sobat, terima kasih....kehadiranmu telah mendukungku, tuk berjuang dengan diri menghadirkan roh di tengah savana kerontang bumi Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Juni 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-2565288833551068291?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/09/menuju-asa.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-2859071321459907289.post-5327521654678161763</guid><pubDate>Thu, 25 Sep 2008 05:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-25T18:07:37.709-08:00</atom:updated><title>TUBUH</title><description>Ringan kutarik nafas, kehembuskan sepenuh jiwa dalam kepasrahan &lt;br /&gt;Kupusatkan pikiranku pada paru-paru, jantung dan pembuluh-pembuluh darah yang mengalir deras namun lembut di sekujur tubuhku &lt;br /&gt;Sambil terpejam, kurasakan hangat mengalir di sekujur tubuh&lt;br /&gt;Kosong…..ringan……dan pasrah pada gerak ilahiah    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak ilahiah itu sering kulupakan &lt;br /&gt;Gejolak pikiran dan nafsu jiwa membuatku melupakan tubuh&lt;br /&gt;Ia seakan begitu asing bagiku &lt;br /&gt;Tak jarang ku mengumpat, mengeluh dan merajuk ketika tubuh terasa sakit &lt;br /&gt;Tanpa sadar, tubuh telah menjadi korban    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh, alangkah kejam aku pada dirimu &lt;br /&gt;Ingin kutebarkan kasih pada banyak tubuh dan jiwa manusia lain &lt;br /&gt;Namun sering kulupakan dan kusakiti tubuhku sendiri &lt;br /&gt;Karunia ilahi yang begitu mulia dan indah ini seakan kucampakkan begitu saja, kuracuni dengan makanan yang merusak, kuhirup udara yang korosif, kusalahkan dia ketika sakit, kueksploitasi dia ketika jiwaku terpuruk…………. &lt;br /&gt;Betapa bodoh diriku    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya aku tanpa tubuh? &lt;br /&gt;Siapakah aku tanpa tubuh? &lt;br /&gt;Mampukah aku berkarya tanpa tubuh? &lt;br /&gt;Bagaimana aku bisa mengekspresikan beribu imagiku tanpa tubuh &lt;br /&gt;Aku ternyata sangat bergantung pada tubuh indah ini &lt;br /&gt;Tubuh yang tanpa sadar telah kuanaktirikan    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh……  &lt;br /&gt;Sakitmu telah menyadarkan pikiran dan nafsu liar yang penuh kekerasan padamu  Sakitmu mengingatkan pikiran dan nafsu untuk berjalan seirama denganmu &lt;br /&gt;Sakitmu adalah teguran dari Sang Suci akan kedirian pikiran dan nafsu &lt;br /&gt;Tak pantas kumengeluh sakit apalagi mengumpat &lt;br /&gt;Karena aku telah mencampakkanmu    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh…. &lt;br /&gt;Mulai kini kau adalah aku &lt;br /&gt;Aku adalah tubuh, pikiran, nafsu dan energi suci yang membuat hidup &lt;br /&gt;Kita tak terpisahkan dalam jalinan kesalingbergantungan, sampai ajal melepaskannya    &lt;br /&gt;Ingin kucintai semua penyusun ‘Aku’ &lt;br /&gt;Dan ingin kutebarkan pula cinta pada semua penyusun ‘Mereka’ &lt;br /&gt;Hingga jalinan kesalingbergantungan itu ada dalam ‘kita’ &lt;br /&gt;Yang akan mewarnai evolusi maupun revolusi suci dalam keduniaan yang ilahiah    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh……….  Adalah mahakarya dan citra ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Juli 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2859071321459907289-5327521654678161763?l=granting-merapi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://granting-merapi.blogspot.com/2008/09/tubuh.html</link><author>noreply@blogger.com (Sri Indiyastuti (Tuti))</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>